Mengukir Identitas Manggong: Signage Pendopo berikon Petruk sebagai implementasi SDGs 11

Di Dusun Manggong, keberadaan pendopo bukan sekadar struktur fisik penunjang desa, melainkan ruang komunal yang menjadi denyut nadi kehidupan sosial warga. Fasilitas ini rutin mewadahi berbagai interaksi, salah satunya adalah pertemuan rutin ibu-ibu PKK yang menjadi wadah penting dalam mempererat ikatan para warga. Menyadari krusialnya peran ruang komunal ini, kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) Manggong Universitas Negeri Yogyakarta menggagas program pembuatan signage untuk Pendopo Dusun Manggong. Langkah ini bukan sebatas pemenuhan elemen papan nama saja,, melainkan sebuah placemaking yang bertujuan untuk memperkuat identitas spasial agar warga merasa lebih memiliki dan bangga terhadap fasilitas desanya.

Gagasan program kerja ini dirancang agar selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya Poin 11: Kota dan Pemukiman yang Berkelanjutan (Sustainable Cities and Communities). Secara spesifik, intervensi pada pendopo ini merespons dua target utama. Pertama, Target 11.7 yang menekankan pada penyediaan ruang publik yang inklusif dan dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat untuk berinteraksi secara bermakna. Kedua, melalui pendekatan desain signage yang sarat makna, program ini menjadi wujud nyata implementasi Target 11.4, yaitu upaya perlindungan dan pelestarian warisan budaya lokal yang disematkan langsung di ranah publik.

Upaya pelestarian tersebut diimplementasikan melalui pemilihan karakter Petruk sebagai ikon utama pada signage. Keputusan ini berakar pada konteks sosial-budaya setempat; Dusun Manggong memiliki tradisi kesenian wayang uwong yang masih hidup dan dilestarikan warganya hingga saat ini. Kehadiran figur Petruk yang merakyat, jenaka, namun mengayomi, sangat merepresentasikan semangat kebersamaan dan karakter warga desa. Elemen visual ini menjadi penanda yang mengikat struktur fisik pendopo dengan narasi budaya yang diwariskan turun-temurun.

Kehadiran signage bernuansa lokal ini diharapkan mampu memberikan dampak positif  secara spasial di Dusun Manggong. Wajah baru pendopo kini terasa lebih berkarakter, memiliki narasi, dan menyatu dengan kebiasaan warganya. Secara jangka panjang, ruang komunal yang memiliki identitas visual yang kuat ini tidak hanya mempermudah identifikasi lokasi, tetapi juga berfungsi sebagai monumen kultural berskala mikro yang merawat ingatan kolektif masyarakat terhadap kesenian wayang uwong. Fasilitas publik ini akhirnya tidak pasif, melainkan mampu "Berbicara" menceritakan identitas penghuninya.

Program kerja KKN di Dusun Manggong membuktikan bahwa upaya pelestarian warisan budaya dan pencapaian target SDGs global dapat dimulai dari langkah-langkah kontekstual di tingkat desa. Mengintegrasikan elemen fungsional fasilitas publik dengan nilai luhur budaya lokal telah mengubah sebuah pendopo biasa menjadi ruang komunal yang bermakna. Hal ini menjadi pengingat bahwa pembangunan kawasan yang berkelanjutan harus senantiasa berpijak pada kearifan lokal, memastikan bahwa seiring berjalannya waktu, masyarakat tidak pernah kehilangan akar budaya yang membentuk identitas mereka.